Selamat Jalan Sang Legenda 'One-Club Man' Choirul Huda

Sumber : perselafootball.com
Hati Choirul Huda hanya tertambat di Surajaya, Lamongan. "Surajaya merupakan rumah bagi saya.", ungkapnya. Ya, Choirul Huda menghabiskan seluruh karier sepakbolanya selama 18 tahun sejak tahun 1999 hingga tahun 2017 di Surajaya, markas kebanggaan dari klub sepakbola Liga 1, Persela Lamongan.

Choirul Huda mengaku sudah sangat akrab dengan Surajaya sejak masih berseragam putih abu-abu. Kala itu, laki-laki kelahiran 2 Juni 1979 tersebut berlatih bersama klub lokal Lamongan, Merpati. 3 kali dalam sepekan dia lalui berlatih di Surajaya. Tidak hanya bersama Merpati, Huda juga sering berlatih bersama tim SMA Negeri 2 Lamongan meskipun dirinya saat itu bersekolah di MAN Lamongan (pelatih dan kebanyakan pemain tim SMAN 2 Lamongan adalah bagian dari tim sepakbola Merpati). Bersama teman-temannya itulah Huda muda mengasah kemampuan bermain sepakbola.

Sumber: Liputan6.com
Huda muda pada awal karier bermain sepakbola bukan merupakan seorang kiper, melainkan dia adalah seorang striker. Posisi tersebut dia jalani selama masih bersekolah di SMA. Namun, salah seorang temannya menyarankan kepada Huda muda untuk berganti posisi menjadi seorang penjaga gawang. Temannya tersebut menilai bahwa Huda muda memiliki potensi yang lebih besar sebagai seorang penjaga gawang, selain karena bakat, juga karena postur tubuh Huda muda yang tinggi. Saran tersebut kemudian dilakukan oleh Huda muda yang kemudian membuatnya direkrut oleh seorang pelatih tim lokal untuk sebuah turnamen di Lamongan. Dari turnamen itulah akhirnya Huda muda bergabung bersama Persela Junior sampai akhirnya pada tahun 1999 dia dipromosikan ke tim utama Persela.

Menjadi bagian dari tim utama Persela pada tahun pertama tidaklah mudah bagi Huda. Pada saat itu, tahun 2000, Huda yang masih berusia 21 tahun hanya menjadi kiper ketiga dibawah Bambang H.S. dan Abdurahman. Pada tahun 2002, akhirnya Huda menjalani debut (yang tidak terduga). Pada saat itu, Persela Lamongan menghadapi Persitara Jakarta Utara dalam suatu laga di divisi utama. Bambang yang masuk dalam starting-line up diganti oleh Abdurahman. Namun, Abdurahman yang bermain tidak baik, oleh pelatih Mustaqim kemudian diganti oleh Huda. Huda pun mendapatkan lebih banyak jam bertanding dibandingkan sebelumnya. Apalagi Bambang tidak dapat bermain pada malam hari karena terdapat masalah di matanya. Sehingga tiap kali Persela bermain di malam hari, Huda menjadi penjaga gawang utamanya.

Choirul Huda terus menjadi panji utama di bawah mistar gawang dan telah menjalani lebih dari 500 pertandingan bersama Persela. Selama itu pula, Huda mendapatkan berbagai tawaran dari tim yang lebih besar datang kepadanya, seperti Persik Kediri (masa Iwan Budianto) dan Persebaya Surabaya. Jika Huda mau, dia bisa saja meninggalkan Persela. Alasannya, selain diminati tim yang lebih besar, ia juga kerap mendapatkan caci maki dari suporter tim yang ia bela sendiri ketika Persela kalah. Bahkan saat masih di divisi utama, saat Persela kalah 0-5 di kandang, dirinya dan teman setim menjadi korban amarah suporter Persela. Namun Huda bergeming. Ia tetap menjatuhkan pilihan utamanya kepada Persela Lamongan.

Sumber : medium.com
Prestasi tertinggi yang pernah dirinya raih bersama Persela adalah menjuarai kejuaraan di Jawa Timur dan menjadi peringkat keempat di Indonesia Super League 2011/2012. Kala itu, Persela Lamongan yang dilatih oleh Miroslav Janu menjelma menjadi salah satu tim yang diperhitungkan. Pada tahun itu juga merupakan masa-masa terbaik Huda bersama Persela. Selain menjadi peringkat keempat, Huda juga hanya kebobolan sebanyak 43 kali selama 1 musim yang merupakan jumlah kebobolan sedikit kelima. Pada tahun itu juga Huda mengaku mengalami momen terbaik selama dirinya menjadi penjaga gawang. Pertandingan melawan Persisam Samarinda merupakan pertandingan yang akan selalu dirinya ingat. Kala itu, Persela menang 1-0 atas Persisam. Namun kemenangan itu harus timnya lalui dengan gempuran serangan yang tak kenal henti dari Persisam yang kala itu dimotori oleh Cristian "El Loco" Gonzales. Hebatnya, tak satupun serangan Persisam mampu membobol gawang Persela berkat penyelamatan-penyelamatan gemilang yang dilakukan Huda. Hingga peluit panjang dibunyikan, Persela pun akhirnya menang.

Selama 18 tahun masa pengabdiannya, Choirul Huda selalu menjadi nomor 1 di Persela, hingga dirinya didapuk menjadi kapten tim. 1 hal yang selalu ingin dia capai sejak pertama kali membela Persela, yaitu membawa timnya menjadi juara liga Indonesia. Namun, hal tersebut sulit terwujud. Karena ia sendiri sadar bahwa Persela bukanlah tim besar. Meski begitu, ia pantang menyerah. Kekalahan demi kekalahan maupun caci makian yang ia alami tak membuat cintanya terhadap Persela Lamongan menjadi luntur dan menguburkan impiannya.  Bahkan dirinya baru berencana pensiun pada tahun 2019 kala dirinya berusia 40 tahun. Hal tersebut tidak lain tidak bukan karena dirinya masih penasaran untuk membawa Persela menjadi juara liga Indonesia.

Kini Choirul Huda telah tiada. Choirul Huda "terpaksa" pensiun dini karena ajal telah datang duluan menjemputnya. Benturan dengan rekan setimnya (Ramon Rodrigues) pada Minggu sore, 15 Oktober 2017 kala membela Persela Lamongan menghadapi Semen Padang membuat dirinya pensiun dari sepakbola, bahkan "pensiun" dari kehidupan di dunia. Choirul Huda pun akhirnya harus rela menerima kenyataan untuk menguburkan impiannya. Menguburkan impiannya bersama dirinya sendiri di liang lahat dan membawanya ke surga

Selamat jalan, Cap!



Sumber : perselafootball.com



Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN PENDAHULUAN : ASUHAN KEPERAWATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS (ISPA)

LAPORAN PENDAHULUAN : ASUHAN KEPERAWATAN DIARE

LAPORAN PENDAHULUAN : ASUHAN KEPERAWATAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)