Selamat Jalan Sang Legenda 'One-Club Man' Choirul Huda
![]() |
| Sumber : perselafootball.com |
Choirul Huda mengaku sudah sangat akrab dengan Surajaya sejak masih berseragam putih abu-abu. Kala itu, laki-laki kelahiran 2 Juni 1979 tersebut berlatih bersama klub lokal Lamongan, Merpati. 3 kali dalam sepekan dia lalui berlatih di Surajaya. Tidak hanya bersama Merpati, Huda juga sering berlatih bersama tim SMA Negeri 2 Lamongan meskipun dirinya saat itu bersekolah di MAN Lamongan (pelatih dan kebanyakan pemain tim SMAN 2 Lamongan adalah bagian dari tim sepakbola Merpati). Bersama teman-temannya itulah Huda muda mengasah kemampuan bermain sepakbola.
![]() |
| Sumber: Liputan6.com |
Menjadi bagian dari tim utama Persela pada tahun pertama tidaklah mudah bagi Huda. Pada saat itu, tahun 2000, Huda yang masih berusia 21 tahun hanya menjadi kiper ketiga dibawah Bambang H.S. dan Abdurahman. Pada tahun 2002, akhirnya Huda menjalani debut (yang tidak terduga). Pada saat itu, Persela Lamongan menghadapi Persitara Jakarta Utara dalam suatu laga di divisi utama. Bambang yang masuk dalam starting-line up diganti oleh Abdurahman. Namun, Abdurahman yang bermain tidak baik, oleh pelatih Mustaqim kemudian diganti oleh Huda. Huda pun mendapatkan lebih banyak jam bertanding dibandingkan sebelumnya. Apalagi Bambang tidak dapat bermain pada malam hari karena terdapat masalah di matanya. Sehingga tiap kali Persela bermain di malam hari, Huda menjadi penjaga gawang utamanya.
Choirul Huda terus menjadi panji utama di bawah mistar gawang dan telah menjalani lebih dari 500 pertandingan bersama Persela. Selama itu pula, Huda mendapatkan berbagai tawaran dari tim yang lebih besar datang kepadanya, seperti Persik Kediri (masa Iwan Budianto) dan Persebaya Surabaya. Jika Huda mau, dia bisa saja meninggalkan Persela. Alasannya, selain diminati tim yang lebih besar, ia juga kerap mendapatkan caci maki dari suporter tim yang ia bela sendiri ketika Persela kalah. Bahkan saat masih di divisi utama, saat Persela kalah 0-5 di kandang, dirinya dan teman setim menjadi korban amarah suporter Persela. Namun Huda bergeming. Ia tetap menjatuhkan pilihan utamanya kepada Persela Lamongan.
![]() |
| Sumber : medium.com |
Selama 18 tahun masa pengabdiannya, Choirul Huda selalu menjadi nomor 1 di Persela, hingga dirinya didapuk menjadi kapten tim. 1 hal yang selalu ingin dia capai sejak pertama kali membela Persela, yaitu membawa timnya menjadi juara liga Indonesia. Namun, hal tersebut sulit terwujud. Karena ia sendiri sadar bahwa Persela bukanlah tim besar. Meski begitu, ia pantang menyerah. Kekalahan demi kekalahan maupun caci makian yang ia alami tak membuat cintanya terhadap Persela Lamongan menjadi luntur dan menguburkan impiannya. Bahkan dirinya baru berencana pensiun pada tahun 2019 kala dirinya berusia 40 tahun. Hal tersebut tidak lain tidak bukan karena dirinya masih penasaran untuk membawa Persela menjadi juara liga Indonesia.
Kini Choirul Huda telah tiada. Choirul Huda "terpaksa" pensiun dini karena ajal telah datang duluan menjemputnya. Benturan dengan rekan setimnya (Ramon Rodrigues) pada Minggu sore, 15 Oktober 2017 kala membela Persela Lamongan menghadapi Semen Padang membuat dirinya pensiun dari sepakbola, bahkan "pensiun" dari kehidupan di dunia. Choirul Huda pun akhirnya harus rela menerima kenyataan untuk menguburkan impiannya. Menguburkan impiannya bersama dirinya sendiri di liang lahat dan membawanya ke surga
Selamat jalan, Cap!
![]() |
| Sumber : perselafootball.com |




Comments
Post a Comment